Mon - Fri : 09:00 - 17:00
info@tarimcap.com
03-7628 5965

Rural Electrification

Elektrifikasi Pedesaan: Pembangkit Energi Terbarukan untuk Daerah Pedesaan dan Pulau-pulau Terpencil

//
Posted By
/
Comment0
/
Categories

Sejak lama, geografi kepulauan Indonesia telah menyebabkan Indonesia menghadapi tantangan yang berat dalam pembangunan infrastruktur dasar, terutama dalam bidang cakupan dan pembangkitan tenaga listrik. Meskipun demikian, ada konsensus umum bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara tak terpisahkan dari perkembangan industri dalam berbagai aspek. Oleh karena itu, jika pemerintah Indonesia ingin merangsang pembangunan ekonomi di daerah di luar Pulau Jawa, lebih penting lagi untuk memastikan pasokan listrik yang handal ke seluruh wilayah negara ini, guna meningkatkan standar hidup penduduk dan membangun berbagai industri sehingga sejumlah besar peluang kerja dapat diciptakan bagi warga setempat.

Menurut data yang dirilis di situs Departemen Riset Indonesia dari GBG (Global Business Guide) pada akhir tahun 2011, total kapasitas pasokan tenaga listrik Indonesia adalah 31 miliar watt, sementara tingkat cakupan elektrifikasi hanya 71%, yang menunjukkan bahwa lebih dari 80 juta orang tidak memiliki pasokan listrik. Pada tahun 2003, pemerintah menetapkan target untuk mencapai cakupan listrik 90% pada tahun 2020, sambil mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26%. Target ini menunjukkan perlunya investasi signifikan dalam kapasitas pasokan tenaga listrik negara ini dan peluang besar yang dihasilkan oleh industri ini bagi para investor, terutama dalam industri energi terbarukan.

Dalam sistem tenaga listrik Indonesia, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengelola 84% transmisi listrik negara ini, sementara 16% sisanya dilakukan oleh produsen tenaga mandiri (IPP). Dalam hal pasokan bahan baku, batubara adalah sumber utama bahan bakar untuk pembangkit listrik terhubung ke jaringan, mencakup 40% dari total kapasitas pembangkit listrik, diikuti oleh minyak 29% dan gas alam 21%, sedangkan energi terbarukan hanya menyumbang 10% (data dari Laporan Infrastruktur Dasar Indonesia 2010). Dalam hal kapasitas pembangkitan listrik luar jaringan, kapasitas pembangkitan listrik mencapai 6,4 miliar watt pada tahun 2010. Dalam bidang energi non-terbarukan, pembangkit listrik berbahan bakar diesel adalah bentuk utama pembangkitan listrik, sedangkan energi terbarukan menyumbang 50% dari total kapasitas luar jaringan. Diterapkan dengan Sistem Rumah Tenaga Surya (Solar Home System, SHS) (data dari Laporan Infrastruktur Dasar Indonesia 2010). Permintaan listrik dalam negeri secara keseluruhan meningkat seiring dengan pertumbuhan makroekonomi di negara ini. Diperkirakan bahwa perekonomian makro Indonesia akan terus tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 9% pada tahun 2019. Namun, karena kurangnya investasi dan ketergantungan berlebih pada bahan bakar fosil mahal, kapasitas pembangkitan listrik Indonesia tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata kurang dari 5%, tidak mampu mengejar pertumbuhan permintaan.

Indonesia menghadapi kesenjangan yang besar antara pasokan dan permintaan tenaga listrik. Menurut Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2016-2025 (RUPTL), Indonesia akan menghadapi krisis panjang kesenjangan antara pasokan dan permintaan tenaga listrik. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pembangkit listrik menjadi komponen kritis untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2016-2025 (RUPTL), untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,7%, Indonesia perlu memasang pembangkit listrik tambahan sebesar 80.538 MW dalam 10 tahun, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 8.000 MW dan memerlukan perkiraan total investasi sebesar USD 153,7 miliar di mana investasi IPP yang diperlukan diproyeksikan lebih dari USD 100 miliar (berdasarkan pertimbangan 70% pembangkit listrik baru yang dipasang oleh produsen tenaga mandiri (IPP)). Perhitungan tersebut menggambarkan ukuran pasar yang relatif besar.

Selama bekerja dalam upaya pengentasan kemiskinan, Induk KUD Nasional menghadapi tantangan terbesar yaitu kurangnya pasokan listrik di daerah pedesaan terpencil, khususnya faktor tersebut yang menyebabkan pendapatan banyak petani di daerah pedesaan di mana kelapa sawit menjadi tanaman utama tidak meningkat.

Menurut data pasokan kelapa sawit global, Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi karena infrastruktur dasar yang kurang memadai, banyak buah kelapa sawit gagal dikirim ke pabrik pengolahan dalam waktu singkat, yang mengakibatkan penurunan kualitas dan akibatnya tidak memberikan keuntungan tawar-menawar yang lebih baik dalam harga kelapa sawit.

Masalah ini telah menghantui Induk KUD selama bertahun-tahun, dan setelah bertahun-tahun kerja keras, akhirnya pada April 2018, di bawah saksi dari Duke Capital dan banyak mitra, Induk KUD telah menandatangani MoU dengan Controlnet International Ltd. dari Taiwan untuk membantu Induk KUD membangun 1.000 pembangkit listrik biomassa kecil di provinsi-provinsi pedesaan di Indonesia untuk membangun sistem jaringan mikrogrid hijau bagi masyarakat petani di daerah terpencil.

Melalui pembangunan stasiun listrik bioenergi dan sistem mikrogrid hijau yang dibangun oleh Controlnet International Ltd., banyak desa penghasil kelapa sawit dengan populasi kurang dari 1.000 orang dapat membangun pabrik pengolahan kelapa sawit kecil untuk memastikan panen buah kelapa sawit. Hasilnya dapat diolah menjadi minyak kelapa sawit dalam waktu singkat, dan sisa yang dihasilkan dalam proses pengolahan akan diubah menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik biomassa, sehingga membentuk ekosistem pasokan daya yang hijau dan ramah lingkungan.

Selain menyediakan listrik untuk pabrik pengolahan kelapa sawit, kelebihan daya yang dihasilkan oleh pembangkit listrik dapat disalurkan ke industri pedesaan di sekitarnya melalui sistem jaringan mikrogrid hijau. Cabang-cabang Induk KUD di daerah pedesaan dapat membantu petani lokal dalam menjalankan berbagai industri pengolahan pedesaan skala kecil untuk mempromosikan pengembangan industri terkait pertanian di wilayah ekonomi regional.

Pelaksanaan rencana ini mendukung promosi aktif pemerintah Indonesia dalam kebijakan pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Pada saat yang sama, ini adalah tata letak strategis yang sangat penting bagi Induk KUD Nasional untuk menerapkan “Pertanian Cerdas” dan mempromosikan “Pengentasan Kemiskinan secara Presisi” di seluruh negeri.

Leave a Reply