Transformasi Digital dalam Pertanian dan Daerah Pedesaan
Setiap kali disebutkan mengenai pertanian, pikiran kita langsung membayangkan petani yang bekerja keras dengan keringat menetes serta rumah petani yang sangat sederhana. Itu mungkin adalah stereotip masyarakat umum terhadap pertanian, dan hal itu juga dapat menyebabkan penolakan generasi muda di banyak negara untuk berkontribusi dalam ekonomi pertanian! Li Wei, seorang penyair dari Dinasti Tang dalam puisinya yang berjudul “Simpati untuk Petani” menulis “Di bawah terik matahari sore, keringat para petani jatuh ke tanah. Apakah ada orang yang menyadari bahwa setiap butir nasi di atas piring penuh dengan kerja keras yang luar biasa,” menggambarkan usaha kerja para petani. Selama ribuan tahun, lirik puisi tersebut telah menjadi bagian yang sangat dikenal oleh hampir semua murid sekolah dasar hingga keluarga dari etnis Tionghoa. Tulisan puisi itu dengan jelas mencerminkan gambaran realistis para petani di Indonesia. Namun, fenomena seperti itu telah berkembang dengan perbaikan yang dilakukan secara diam-diam.
Dengan berbagai teknologi pertanian canggih dari luar negeri yang telah dibawa dan diperkenalkan oleh Induk Koperasi KUD ke Indonesia, kesenjangan antara pertanian dan teknologi semakin kecil, dan orang tidak lagi berpegang pada kesan sebelumnya terhadap para petani. Tujuan utamanya adalah untuk secara bertahap mengubah pertanian menuju otomatisasi penuh tanpa perlu mengandalkan tenaga kerja manusia. Di abad baru ini, petani tidak lagi hanya melakukan pekerjaan pertanian mereka dengan tenaga fisik semata, tetapi lebih banyak membutuhkan pengambilan keputusan dengan akal budi, yang memerlukan banyak sumber daya manusia untuk melaksanakan pelatihan dengan pengawasan jangka panjang, untuk mencapai dampak yang diinginkan. Hanya dengan membebaskan para petani kecil dari pekerjaan fisik yang membosankan dan berat, kita dapat menciptakan nilai lebih besar untuk prospek industri pertanian.
Transformasi digital di antara perusahaan telah mencapai titik kritisnya. Transformasi digital di industri pertanian memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, jika Li Wei, penyair dari Dinasti Tang, melakukan perjalanan ke abad saat ini melalui mesin waktu, dia kemungkinan akan melihat situasi yang benar-benar berbeda: Di bawah terik matahari, mesin otomatis beroperasi dengan stabil di lahan pertanian, satu instruksi tunggal dapat diatur untuk tindakan bertani, penyiraman, pemupukan, dan panen. Sebuah drone berpatroli di atas lahan pertanian, dan data gambar yang ditangkap dikirimkan secara real-time kembali ke tanah. Sensor dipasang di lapangan untuk mengukur dan mencatat kondisi lingkungan setiap saat. Tidak peduli masalah apa yang terjadi pada tanaman, itu dapat dilacak dengan cepat.
Deskripsi di atas bukan lagi fantasi tanpa dasar, tetapi merupakan tujuan yang saat ini sedang dikerjakan oleh para ilmuwan dunia yang peduli tentang teknologi pertanian. Hal ini disebabkan oleh bantuan teknologi, para petani ke depannya tidak perlu bekerja sekeras yang mereka lakukan sekarang. Menurut laporan yang dirilis oleh platform investasi pertanian AS – AgFunder pada bulan Februari tahun ini, dari tahun 2010 hingga 2015, jumlah investasi dalam ilmu dan teknologi pertanian terus meningkat. Jumlah investasi pada tahun 2015 hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya, mencapai 4,6 miliar dolar AS. Di antara tiga area yang paling mencolok adalah perdagangan elektronik pertanian, pasokan air, serta “Pertanian Tepat Guna” yang mencakup drone dan mesin otomatis.
The Wall Street Journal juga telah menyoroti gelombang lonjakan investasi pertanian. The Wall Street Journal menyatakan bahwa karena rendahnya harga teknologi jaringan nirkabel, alat-alat untuk mengumpulkan data dan memantau tanaman semakin canggih, ditambah dengan para pengusaha yang mencari permintaan pasar baru serta perhatian konsumen terhadap keamanan pangan, membuat rantai pasokan makanan menjadi lebih transparan. Laporan tersebut juga mengidentifikasi lima area investasi kunci, yaitu “Pertanian Tepat Guna”, pertanian dalam ruangan, keamanan pangan, robot pertanian, dan solusi makanan alternatif.
Pengembangan ilmu dan teknologi pertanian sangat terkait dengan penuaan penduduk di pedesaan. Karena dalam kasus penurunan tenaga kerja, sangat penting untuk menggunakan teknologi guna meningkatkan efisiensi pertanian. Populasi pertanian yang berusia di atas 55 tahun telah meningkat dari 33% pada tahun 2002 menjadi 42% pada tahun 2012, menunjukkan tingkat penuaan yang relatif tinggi. Oleh karena itu, beberapa negara telah menuntut rasio yang lebih tinggi dari orang muda dan perempuan yang berkontribusi pada industri pertanian untuk menghadapi peningkatan populasi global dan permintaan pangan yang meningkat.
Dengan datangnya era big data, teknologi pertanian ditambah dengan perkembangan pengolahan data, kami sangat yakin bahwa teknologi telah membantu menghubungkan petani kecil dengan pasar dan mengubah cara desa-desa petani melakukan bisnis. Oleh karena itu, sangat mungkin untuk mewujudkan visi meningkatkan kesejahteraan para petani dari aspek mendasar ekonomi sosial.
Saat ini, digital bukan lagi bagian dari ekonomi, tetapi merupakan ekonomi itu sendiri. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Sekolah Manajemen MIT Sloan, perusahaan yang dapat mengikuti tren digital lebih menguntungkan 26% dibandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama. Oleh karena itu, penggunaan teknologi digital yang benar dapat membantu mentransformasi daerah pedesaan dan membentuk ekosistem yang benar-benar baru bagi daerah pedesaan untuk melampaui rantai pasokan langsung tradisional dan menuju arah Internet of Things di bidang pertanian.